< 1 >
IKAHAB:Read!
KELUARGA MBAH NYAI RUQOYYAH:In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot.
< 2 >
IKAHAB
KELUARGA MBAH NYAI KHOMSAH, JERU,TUREN:SIAP MENJALIN TALI SILATURRAHIIM.
< 3 >
IKAHAB
KELUARGA MBAH H. NUR, TUREN:MENGAJAK MEMBANGUN KERUKUNAN DALAM MENINGKATKAN KEIMANAN KETAQWAAN.
< 4 >
IKAHAB
KELUARGA MBAH NYAI SAH, JERU:INGIN MASU BERSAMA SEJAHTERA BERSAMA.
< 5 >
IKAHAB
KELUARHA MBAH H. ABD. LATIF, BUNGKUK, SINGOSARI:dENGAN NAMA ALLAH,BERTEKAD BERJUANG DEMI WARGA BESAR IKAHAB.
< 6 >
IKAHAB
KELUARGA MBAH NYAI MARYAM, JERU: dENGAN NAMA ALLAH KITA TINGKATKAN UKHUWAH ISLAMIAH DALAM WADAH IKAHAB.
< 7 >
IKAHAB
KELUARGA MBAH H. MOESTOFA, JERU: MARI KITA JAGA ANAK CUCU KITA DARI PENGARUH NEGATIP DI ERA GLOBALISASI.
<8 >
IKAHAB
KELUARGA MBAH H. SYARIEF, KAUMAN, TUREN: MARI KITA ENTASKAN KELUAGA BESAR KITA DARI GAGAP TEKNOLOGI.
< 9 >
IKAHAB
KELUARGA MBAH H. NAWI, UREK-UREK, GONDANG LEGI:MARI KITA PIKIRKAN GENERASI PENERUS KITA AGAR MEMILIKI KEMAMPUAN DI ATAS GENERASI SEBELUMNYA.
<10 >
IKAHAB
KELUARGA BAPAK H. ALI, JERU:In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot.

Friday, May 17, 2019

Anjuran Mengakhirkan Makan Sahur

Anjuran Mengakhirkan Makan Sahur
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu‘anhu 
berkata :

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاةِ ، قَالَ : قُلْتُ : كَمْ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ ؟
 قَالَ : قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةٍ

“Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu 
melaksanakan shalat. Anas berkata, Aku bertanya kepada Zaid: “Berapa jarak antara 
adzan dan sahur ?”. Dia menjawab : ‘seperti lama membaca 50 ayat’” 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Faedah hadits
Disyariatkannya makan sahur dan mengakhirkannya.
Jarak antara sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shalat subuh seperti lamanya 
orang yang membaca 50 ayat.
Semangat para sahabat untuk bertemu dan berkumpul dengan Nabi shallallahu‘alaihi 
wa sallam supaya mereka dapat mengambil ilmu dari beliau.
Kemuliaan dan ketawadhuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dianjurkan untuk bersegera menunaikan shalat subuh.
Diperbolehkan mengundang orang lain untuk menghadiri makan sahur sebagaimana 
perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengundang Zaid bin Tsabit 
radhuyallahu‘anhu untuk makan sahur bersama beliau.
Disyariatkan makan dengan duduk. Oleh karena itu Zaid katakan : “lalu kami berdiri 
melaksanakan shalat”. Hal ini menunjukkan bahwa makannya dalam keadaan duduk.
Hadits diatas menunjukkan dibolehkan melakukan pertemuan dimalam hari meskipun 
sudah larut malam jika ada kebutuhan atau sebab tertentu.
Waktu berhenti dari makan sahur (imsak) adalah saat terbitnya fajar. Oleh karena itu 
orang yang menjadikan ada waktu imsak khusus dan waktu terbitnya fajar maka telah 
melakukan perbuatan yang mengada-ada dalam agama yang mulia ini.

RAMADHAN MUBARAK
Berisi informasi dan kegiatan bulan Ramadhan
https://t.me/Ramadhan_mubarok

*PANUTAN PENYESAT UMAT*

Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi panutan orang banyak…
Tulisan ini untuk setiap makhluk yang setiap perkataan dan perbuatannya diikuti 
orang banyak…
Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi trend made orang banyak…
Tulisan ini tertulis untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak 
menjadikan seorang sebagai panutan yang menyesatkan mereka dari jalan Allah 
Ta’ala, panutan yang sebenarnya hanyalah pembawa ke jalan syetan, jalan neraka. 
Nau’dzubillah.
Tulisan ini ditulis ketika saking banyaknya panutan, tapi menyesatkan umat dari
 Jalan Allah Ta’ala, baik dengan melakukan:
Kesyirikan dengan istighotsah dan tawassulnya kepada orang-orang yang sudah mati.
Kesyirikan dengan mengambil barokah dari dzatnya orang-orang shalih.
Sarana penyebab kesyirikan dengan mencari-cari hari baik untuk pernikahan atau 
hajat,…dan lain-lain.
Bid’ah dengan amalan-amalan dan shalawat-shalawat yang tidak pernah ada di 
zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bid’ah dengan pembacaan dzikir-dzikir yang dikhususkan tempatnya, waktunya, keadaannya, jumlah bilangannya yang tidak pernah dikhususkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi 
wa sallam. Maksiat dengan ta’arufnya padahal itu pacaran.
Maksiat dengan bersalaman dengan wanita bukan mahram padahal larangan dan 
keharamannya jelas.
Maksiat dengan tidak menjaga pandangan, meluaskan pandangan kepada wanita yang 
setengah telanjang.
Maksiat dengan berkumpul dengan wanita-wanita bukan mahram tanpa ada penutup, 
bahkan wanitanya memakai pakaian yang tidak pantas dilihat kecuali oleh suaminya.
Dan perbuatan dosa lainnya.
Takutlah kepada Allah Ta’ala jika Anda menjadi panutan orang banyak dalam dosa 
dan maksiat, karena Anda akan:
1)   Menjadi orang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihin wa sallam 
atas umatnya.Intinya, Anda adalah orang sangat berbahaya bagi umat beliau shallallahu
 ‘alaihi wa sallam,

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي
 إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عنهم إلى يوم القيامة)

Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam 
bersabda, “Sesungguhnya aku tidak takut atas umatku kecuali para pemimpin yang
 menyesatkan, dan jika diletakkan pedang pada umatku, maka tidak akan diangkat 
dari mereka sampai hari kiamat”. (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab 
Silsisilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1582)

Makna pemimpin:
1. Para pemimpin negara yang sesat dan para ulama yang menyesatka

والمراد بقوله: “الأئمة المضلين”: الذين يقودون الناس باسم الشرع، والذين يأخذون الناس بالقهر والسلطان; 
فيشمل الحكام الفاسدين، والعلماء المضلين، الذين يدعون أن ما هم عليه شرع الله، وهم أشد الناس عداوة له.

Yang dimaksud “الأئمة المضلين” adalah orang-orang yang menuntun manusia dengan 
membawa nama syariat, dan orang-orang yang membawa manusia dengan kekuasaan, 
dan termasuk mereka ini adalah para pemimpin negara yang rusak dan para ulama yang menyesatkan, orang-orang yang mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah 
syariat Allah padahal mereka adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadapnya 
(syariat Allah) (Lihat kitab Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).

2. Para pemimpin kekuasaan, para ulama, para ahli ibadah yang menyesatkan.
“الأئمة”,  aimmah adalah jamak (bentuk plural) dari imam. Imam berarti panutan 
yang diikuti baik dalam kebaikan atau keburukan.
Jika panutan dari orang-orang yang sesat maka umat akan tersesat, dan terjadi 
di tengah-tengah mereka akan muncul keburukan, dan mereka yang dimaksudkan 
adalah para pemimpin negara yang sesat, para ulama yang sesat, para ahli ibadah 
yang sesat, dan para ahli dakwah yang sesat. Setiap dari mereka adalah para 
pemimpin yang sesat, jika umat dituntun oleh mereka maka mereka akan menuntun 
kepada kebinasaan. Adapun jika yang menuntun umat adalah para penyeru kebenaran 
maka mereka akan menuntun umat kepada kebaikan dan keselamatan (Lihat kitab
 I’anat Al Mustafid bi Syarh Kitab At Tauhid, karya Syaikh Shalih Al Fauzan).

Mari perhatikan beberapa pernyataan yang sangat bermanfaat di bawah ini:
Bahwa para pemimpin itu ada tiga jenis: umara (pemimpin negara), ulama 
(para ahli ilmu agama), ‘ubbad (para ahli ibadah).  Mereka inilah yang ditakutkan 
akan mudah menyesatkan orang lain karena mereka adalah orang-orang yang 
diikuti. Para umara, mereka memiliki kekuasaan dan pelaksanaan. Para ulama 
mereka memiliki penyuluhan dan pendidikan. Sedangkan para ahli Ibadah mereka
 kadang menipu dengan keadaan mereka. Merekalah orang-orang yang ditaati dan 
jadi panutan, maka pengaruh mereka sungguh amat mengkhawatirkan. Karena jika 
mereka sesat maka mereka akan menyesatkan kebanyakan manusia. Namun, jika mereka mendapat petunjuk pada kebaikan, maka banyak orang akan ikut mendapat petunjuk (Lihat kitab Al Qaul Al Mufid, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).

Seorang yang berilmu yang diikuti dan dipandang dengan mata keshalihan, jika 
mengerjakannya (shalat-shalat bid’ah), maka jelas akan memberikan kerancuan 
terhadap orang awam bahwa hal tersebut adalah termasuk sunnah, jadilah dia 
seorang yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan 
perbuatannya, yang terkadang bisa jadi penyebab langsung ia berdusta atas nama 
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebanyakan manusia melakukan bid’ah dengan 
sebab ini. Mereka mengira orang yang mereka ikuti termasuk orang berilmu dan 
bertakwa. Padahal dia bukan orang seperti itu. Lalu mereka memperhatikan perkataan
 dan perbuatannya. Kemudian mereka mengikutinya dalam hal tersebut dan akhirnya 
rusaklah keadaan mereka.

Di dalam hadits riwayat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi 
wasallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk yang kukhawatirkan atas umatku 
adalah para pemimpin yang menyesatkan”. (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi dan beliau mengatakan: “Hadits ini 
adalah hadits yang shahih”)

Dan di dalam kitab Ash Shahih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam 
bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu tiba-tiba, tetapi mencabutnya 
dengan mewafatkan para ulama, sampai tidak tersisa seorang berilmu. Akhirnya 
manusia menjadikan orang-orang bodoh (sebagai ulama), akhirnya mereka 
(orang-orang bodoh tadi) memberi fatwa tanpa ilmu dan mereka menyesatkan”.

Imam Ath Tharthusyi rahimahullah berkata, “Renungkanlah kalian semua hadits ini. 
Sesungguhnya hadits ini menunjukkan bahwa bid’ah itu tidaklah muncul disebabkan 
oleh para ulama mereka. Akan tetapi bid’ah muncul ketika wafat ulama-ulama mereka, 
lalu orang yang tidak berilmu memberi fatwa. Akhirnya muncullah bid’ah dari orang 
yang tidak berilmu itu.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memindahkan makna ini dengan berkata: 
“Seorang yang amanah tidak akan pernah berkhianat. Akan tetapi jika diberi amanat, 
orang yang tidak amanat akan terlihat hidung belangnya (sifat khianatnya)”.  Kita pun 
dapat mengatakan,“Tidak pernah seorang alim melakukan bid’ah. Akan tetapi orang 
yang tidak berilmu dimintai fatwa. Lantas dia sesat dan menyesatkan orang lain.”

Dan demikianlah perbuatan Rabi’ah. Imam Malik berkata: “Suatu hari Rabi’ah 
menangis dengan sekencang-kencangnya ketika ditanya, “Apakah ada musibah yang menimpamu?” Beliau menjawab, “Tidak. Akan tetapi akan ditanya orang yang tidak 
berilmu maka akhirnya muncul masalah yang amat besar” (Lihat Kitab Al Ba’its ‘Ala 
Inkar Al Bida’, karya Abu Syamah).

2) Menanggung dosa seluruh orang yang mengikuti Anda dalam dosa dan maksiat.
Al Mundzir bin Jarir medapatkan riwayat dari bapaknya, beliau meriwayatkan 
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ 
مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mensunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu 
diamalkan, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa yang mengerjakannya 
setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

3) Diadukan kepada Allah Ta’ala oleh orang yang mengikuti Anda di dalam dosa dan
 maksiat agar Anda mendapat siksa berlipat dan terlaknat, akibat kesesatan yang Anda sebarkan.
Allah Ta’ala berfirman,

{إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا (64) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (65)
 يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68

“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)”. “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong”. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. “Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya
 kami telah  menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka 
menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”. (QS. Al Ahzab: 64-68).

Pesan Terakhir
Jadilah manusia yang menjadi kunci kebaikan bukan kunci kesesatan. 
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi 
wasallam bersabda,

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ
 مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

“Sesungguhnya dari manusia ada yang menjadi kunci kebaikan dan penutup 
keburukan. Juga ada manusia yang menjadi kunci keburukan dan menjadi penutup 
kebaikan. Bahagialah orang yang telah Allah anugerahkan ia sebagai kunci kebaikan 
melalui tangannya dan celakalah bagi siapa yang telah Allah jadikan baginya kunci 
keburukan melalui tangannya”. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan di dalam kitab Silsilat 
Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1332).
Ahad, 17 Dzulhijjah 1432H, Dammam KSA.

Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc (Da’i di Islamic Cultural Center Dammam, KSA)
Artikel www.muslim.or.id/


🍃

Wednesday, May 15, 2019

LIMA PULUH AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah terdiri dari 50 aqidah, di mana yang 50 aqidah ini 
dimasukkan 
ke dalam 2 kelompok besar, iaitu:
1. Aqidah Ilahiyyah (عقيدة الهية) dan
2. Aqidah Nubuwwiyah (عقيدة نبوية)
Adapun Aqidah Ilahiyyah terdiri dari 41 sifat, iaitu:
.
A. 20 sifat yang wajib bagi Allah swt: wujud (وجود), qidam (قدم), baqa (بقاء), mukhalafah 
lil hawaditsi 
(مخالفة للحوادث), qiyamuhu bin nafsi (قيامه بالنفس), wahdaniyyat (وحدانية), qudrat (قدرة), iradat (ارادة), 
ilmu (علم), hayat (حياة), sama’ (سمع), bashar (بصر), kalam (كلام), kaunuhu qadiran (كونه قديرا), 
kaunuhu muridan 
(كونه مريدا), kaunuhu ‘aliman (كونه عليما), kaunuhu hayyan (كونه حيا), kaunuhu sami’an (كونه سميعا), 
kaunuhu 
bashiran (كونه بصيرا), dan kaunuhu mutakalliman (كونه متكلما).
.
B. 20 sifat yang mustahil bagi Allah swt: ‘adam (tidak ada), huduts (baru), fana’ (rusak), 
mumatsalah lil hawaditsi (menyerupai makhluk), ‘adamul qiyam bin nafsi (tidak berdiri 
sendiri), ta’addud (berbilang),
 ‘ajzu (lemah atau tidak mampu), karohah (terpaksa), jahlun (bodoh), maut, shamam (tuli),
 ‘ama (buta),
 bukmun (gagu), kaunuhu ‘ajizan, kaunuhu karihan, kaunuhu jahilan (كونه جاهلا), kaunuhu mayyitan 
(كونه ميتا), kaunuhu ashamma (كونه أصم), kaunuhu a’ma (كونه أعمى), dan kaunuhu abkam (كونه أبكم).
.
C. 1 sifat yang ja’iz bagi Allah swt.
Aqidah Nubuwwiyah terdiri dari 9 sifat, yaitu:
A. 4 sifat yang wajib bagi para Nabi dan Rasul: siddiq (benar), tabligh (menyampaikan), Amanah, 
dan fathanah (cerdas).
B. 4 sifat yang mustahil bagi para Nabi dan Rasul: kidzib (bohong), kitman (menyembunyikan), 
khianat, dan baladah (bodoh).
C. 1 sifat yang ja’iz bagi para Nabi dan Rasul.
.
I. DALIL-DALIL SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT:
1. Dalil sifat Wujud (Maha Ada): QS Thaha ayat 14, QS Ar-Rum ayat 8, dsb.
2. Dalil sifat Qidam (Maha Dahulu): QS Al-Hadid ayat 3.
3. Dalil sifat Baqa (Maha Kekal): QS Ar-Rahman ayat 27, QS Al-Qashash ayat 88.
4. Dalil sifat Mukhalafah lil Hawaditsi (Maha Berbeda dengan Makhluk): QS Asy-Syura 
ayat 11, QS Al-Ikhlas ayat 4.
5. Dalil sifat Qiyamuhu bin Nafsi (Maha Berdiri Sendiri): QS Thaha ayat 111, QS Fathir 
ayat 15.
6. Dalil sifat Wahdaniyyat (Maha Tunggal / Esa): QS Az-Zumar ayat 4, QS Al-Baqarah 
ayat 163, QS Al-Anbiya’ ayat 22, QS Al-Mukminun ayat 91, dan QS Al-Isra’ ayat 42-43.
7. Dalil sifat Qudrat (Maha Kuasa): QS An-Nur ayat 45, QS Fathir ayat 44.
8. Dalil sifat Iradat (Maha Berkehendak): QS An-Nahl ayat 40, QS Al-Qashash ayat 68, 
QS Ali Imran ayat 26, QS Asy-Syura ayat 49-50.
9. Dalil sifat Ilmu (Maha Mengetahui): QS Al-Mujadalah ayat 7, QS At-Thalaq ayat 12, 
QS Al-An’am ayat 59, dan QS Qaf ayat 16.
10. Dalil sifat Hayat (Maha Hidup): QS Al-Furqan ayat 58, QS Ghafir ayat 65, dan 
QS Thaha 111.
11 & 12. Dalil sifat Sama’ (Maha Mendengar) dan Bashar (Maha Melihat): QS Al-
Mujadalah ayat 1, QS Thaha ayat 43-46.
13. Dalil sifat Kalam (Maha Berfirman): QS An-Nisa ayat 164, QS Al-A’raf ayat 143, dan 
QS Asy-Syura ayat 51.
.
Dua puluh sifat yang wajib bagi Allah tersebut di atas dibagi kepada 4 bagian, 
yaitu:1. Sifat Nafsiyyah. Artinya: Sifat yang tidak bisa difahami Dzat Allah tanpa 
adanya sifat. Sifat Nafsiyyah ini hanya satu sifat, yaitu: sifat wujud.
2. Sifat Salbiyyah. Artinya: Sifat yang tidak pantas adanya di Dzat Allah swt. 
Sifat Salbiyyah ini jumlahnya ada lima sifat, yaitu: Qidam, Baqa, Mukhalafah lil Hawaditsi, 
Qiyamuhu bin Nafsi, dan Wahdaniyyah.
3. Sifat Ma’ani. Artinya: Sifat yang tetap dan pantas di Dzat Allah dengan kesempurnaan
-Nya. Sifat Ma’ani ini jumlahnya ada tujuh sifat, yaitu: Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, 
Bashar, dan Kalam.
4. Sifat Ma’nawiyyah. Artinya: Sifat yang merupakan cabang dari sifat Ma’ani. Sifat 
Ma’nawyyah ini jumlahnya ada tujuh sifat, yaitu: Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, 
Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, dan 
Kaunuhu Mutakalliman.
.
II. DALIL-DALIL SIFAT JA’IZ BAGI ALLAH
A. QS Al-Qashash ayat 68
B. QS Al-Imran ayat 26
C. QS Al-Baqarah ayat 284
.
CATATAN PENTING:
.
Pokok-pokok Ilmu Tauhid (مبادئ علم التوحيد):
1. Definisi Ilmu Tauhid (حده):
Ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat Allah dan para rasul-Nya, baik sifat-sifat yang 
wajib, mustahil maupun ja’iz, yang jumlah semuanya ada 50 sifat. Sifat yang wajib bagi 
Allah ada 20 sifat dan sifat yang mustahil ada 20 sifat serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. 
Begitupula sifat yang wajib bagi para rasul ada 4 sifat (sidiq. tabligh, amanah, dan 
fathanah) dan sifat yang mustahil ada 4 sifat (kidzb / bohong, kitman / menyembunyikan, 
khianat, dan bodoh) serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. 50 sifat ini dinamakan “Aqidatul 
Khamsin / عقيدة الخمسين “. Artinya: Lima puluh Aqidah.
2. Objek atau Sasaran Ilmu Tauhid (موضوعه): Dzat Allah dan sifat-sifat Allah.
3. Pelopor atau Pencipta Ilmu Tauhid (واضعاه): Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (260 H – 
330 H / 873 M – 947 M ) dan Imam Abul Manshur Al-Mathuridi ( 238 – 333 H / 852 – 944 M ).
4. Hukum Mempelajari Ilmu Tauhid (حكمه): Wajib ‘ain dengan dalil ijmali (global) dan 
wajib kifayah dengan dalil tafshili.
5. Nama Ilmu Tauhid (اسمه): Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, Ilmu Kalam dan Ilmu ‘Aqa’id.
6. Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu-ilmu lain (نسبته): Asal untuk ilmu-ilmu agama 
dan cabang untuk ilmu selainnya.
7. Masalah-masalah Ilmu Tauhid (مسائله): Sifat-sifat wajib, mustahil, dan ja’iz bagi Allah 
swt dan para  Rasul-Nya.
8. Pengambilan Ilmu Tauhid (استمداده): Diambil dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan akal yang 
sehat.
9. Faedah Ilmu Tauhid (فائدته): Supaya sah melakukan amal-amal sholeh di dunia.
10. Puncak Mempelajari Ilmu Tauhid (غايته): Memperoleh kebahagian, baik di dunia 
maupun akherat dan mendapat ridha dari Allah swt serta mendapat tempat di surga.
.
Maka dengan demikian, benarlah apa yang di sepakati Ulama akan ciri ciri Islam 
yang berasaskan Ahl sunnah wal jama'ah
Islam Ahlussunnah wal Jama'ah adalah Islam dengan 4 ciri:
1. berpedoman pada Qur'an, Hadits, Ijma' dan Qiyas.
2. Di bidang Fiqih, bermadzhab kepada salah satu madzhab yang empat ( ImamHanafi, 
Imam Maliki, ImamSyafii dan Imam Hanbali).
3. Di bidang Aqidah, mengikuti faham Asy'ariyah dan Maturidiyah.
4. Di bidang Tasawuf, mengikuti Imam Abu Qasim al-Junaidi dan ulama Tasawuf 
yang muktabar.
Sekian, Insya-Allah memahami dengan berguru yang ikhlas pada mengikuti manhaj 
Aswaja yang TULIN sahaja terhindarlah kita dari menjadi aqidah mujassimah 
(menyamakan Allah dengan makhluk_ikutan firqah Wahabi yang menempel atau 
pendatang haram  pada Ahlusunnah Wal Jama'ah yang dengan pasti dan jelas 
firqah palsu ini bukan Ahlusunnah Wal Jamaah_sila buat kajian mendalam disitu pasti 
terbukti kebenaran ). Wassalam.
https://ikahab.blogspot.com/2019/05/lima-puluh-aqidah-ahlussunnah-wal-jamaah.html

Copyright @ 2013 IKATAN KELUARGA BESAR.